~Dewa Eka Prayoga
"Kang, Saya kok sekarang takut ya kalau mau jor-joran jualan, takut dikira kapitalis"
Rasa-rasanya perasaan seperti ini akan selalu hadir pada orang yang gak paham tentang makna jualan dan makna kapitalis.
Pikirnya, jualan mungkin aktivitas "nista" dan penuh dosa yang membuat market jadi konsumtif. Dan dikiranya, kapitalis mungkin semacam aktivitas "mengeruk" uang market. Lha, iki piye?
Kalau memang kita tidak ingin asing menguasai pasar lokal, justru kita sebagai produsen dan penjual mesti lebih giat dalam memproduksi dan memasarkan produk kita ke masyarakat Indonesia...
Karena kalau gak gitu, percaya atau tidak, MARKET PASTI KELUAR UANGNYA. Dan disadari atau tidak, kalau kita gak gila-gilaan jualan produk kita sendiri ke mereka, market akan tetap membeli produk ke yang lain, yang katanya asing itu..
Jadi pilih mana, diam diri dan merasa cukup sementara produk luar akan terus mendominasi pasar lokal, atau terus bergerak dan gila-gilaan jualan agar produk lokal senantiasa berdaya di negeri sendiri?
Buka mata kita... Pasar terus bergerak. Kalau kita sebagai produsen dan penjual diam, ya pasar akan terap mencari tempat dan merk untuk 'menghabiskan' uangnya. Kemana? Ujung-ujungnya kalau di lokal gak ada, ya ke merk-merk luar juga...
Bukan salah mereka membeli produk luar, tapi salah kita karena tidak bisa menyediakan produk yang mereka butuhkan.
"Tapi kan kang, kalau kita jualan terus, nanti dikira kapitalis..."
Lha ini juga salah mindset.
Kita jualan ini menolong orang.
Kita jualan ini mengais rezeki.
Kita jualan bukti bahwa kita percaya produk yang kita buat bermanfaat bagi banyak orang.
Kita jualan bukti bahwa tidak rela kalau pasar lokal dikuasai oleh asing.
Lagian, Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Allah yang bilang, itu firman Allah, bukan manusia...
Yang jelas haram, itu riba.
Justru kita rajin jualan, supaya dapat uang halal.. dimana uangnya bisa kita gunakan untuk beli rumah (tanpa KPR), beli motor / mobil (tanpa Leasing), dan beli kebutuhan-kebutuhan lainnya yang tanpa riba.
Jualan = Kapitalis? Siapa bilang?
Kalau jualannya laris, salesnya bakal gede, lapangan pekerjaaan bisa dibuka selebar-lebarnya, karyawan yang dipekerjakan bisa buaanyak, manfaatnya tesebar luas... kesana mikirnya.
Kalau sebagai business ownernya, emang harus merasa cukup. Toh hidup gitu-gitu aja. Pengeluaran bulanan segitu-gitu aja. Cukup.
Kita serius jualan bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk orang-orang di sekitar kita, keluarga kita, orang tua kita, karyawan kita, keluarganya karyawan kita, masyarakat Indonesia, dan masih banyak lagi...
Intinya, kita bergerak menggila untuk ummat, bukan untuk diri kita sendiri....
"Tapi kang, Saya takut nanti mereka jadi konsumtif gara-gara produk yang kita jual"
Lha, darimana Anda tahu, mereka akan tidak konsumtif, seandainya Anda gak ''menjuali' mereka, sementara mereka akan terus membeli produk tersebut di yang lain (dan bisa jadi produk asing)...
Sudahlah... Niatkan jualan untuk nolong orang. Jangan terlalu berpikir sempit.
Yuk rajin jualan...agar makin banyak penghasilan dan kebaikan yang bisa kita lakukan.
Share jika setuju.
Sumber : FB Grup Jago Jualan, Dewa Eka Prayoga
"Kang, Saya kok sekarang takut ya kalau mau jor-joran jualan, takut dikira kapitalis"
Rasa-rasanya perasaan seperti ini akan selalu hadir pada orang yang gak paham tentang makna jualan dan makna kapitalis.
Pikirnya, jualan mungkin aktivitas "nista" dan penuh dosa yang membuat market jadi konsumtif. Dan dikiranya, kapitalis mungkin semacam aktivitas "mengeruk" uang market. Lha, iki piye?
Kalau memang kita tidak ingin asing menguasai pasar lokal, justru kita sebagai produsen dan penjual mesti lebih giat dalam memproduksi dan memasarkan produk kita ke masyarakat Indonesia...
Karena kalau gak gitu, percaya atau tidak, MARKET PASTI KELUAR UANGNYA. Dan disadari atau tidak, kalau kita gak gila-gilaan jualan produk kita sendiri ke mereka, market akan tetap membeli produk ke yang lain, yang katanya asing itu..
Jadi pilih mana, diam diri dan merasa cukup sementara produk luar akan terus mendominasi pasar lokal, atau terus bergerak dan gila-gilaan jualan agar produk lokal senantiasa berdaya di negeri sendiri?
Buka mata kita... Pasar terus bergerak. Kalau kita sebagai produsen dan penjual diam, ya pasar akan terap mencari tempat dan merk untuk 'menghabiskan' uangnya. Kemana? Ujung-ujungnya kalau di lokal gak ada, ya ke merk-merk luar juga...
Bukan salah mereka membeli produk luar, tapi salah kita karena tidak bisa menyediakan produk yang mereka butuhkan.
"Tapi kan kang, kalau kita jualan terus, nanti dikira kapitalis..."
Lha ini juga salah mindset.
Kita jualan ini menolong orang.
Kita jualan ini mengais rezeki.
Kita jualan bukti bahwa kita percaya produk yang kita buat bermanfaat bagi banyak orang.
Kita jualan bukti bahwa tidak rela kalau pasar lokal dikuasai oleh asing.
Lagian, Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Allah yang bilang, itu firman Allah, bukan manusia...
Yang jelas haram, itu riba.
Justru kita rajin jualan, supaya dapat uang halal.. dimana uangnya bisa kita gunakan untuk beli rumah (tanpa KPR), beli motor / mobil (tanpa Leasing), dan beli kebutuhan-kebutuhan lainnya yang tanpa riba.
Jualan = Kapitalis? Siapa bilang?
Kalau jualannya laris, salesnya bakal gede, lapangan pekerjaaan bisa dibuka selebar-lebarnya, karyawan yang dipekerjakan bisa buaanyak, manfaatnya tesebar luas... kesana mikirnya.
Kalau sebagai business ownernya, emang harus merasa cukup. Toh hidup gitu-gitu aja. Pengeluaran bulanan segitu-gitu aja. Cukup.
Kita serius jualan bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk orang-orang di sekitar kita, keluarga kita, orang tua kita, karyawan kita, keluarganya karyawan kita, masyarakat Indonesia, dan masih banyak lagi...
Intinya, kita bergerak menggila untuk ummat, bukan untuk diri kita sendiri....
"Tapi kang, Saya takut nanti mereka jadi konsumtif gara-gara produk yang kita jual"
Lha, darimana Anda tahu, mereka akan tidak konsumtif, seandainya Anda gak ''menjuali' mereka, sementara mereka akan terus membeli produk tersebut di yang lain (dan bisa jadi produk asing)...
Sudahlah... Niatkan jualan untuk nolong orang. Jangan terlalu berpikir sempit.
Yuk rajin jualan...agar makin banyak penghasilan dan kebaikan yang bisa kita lakukan.
Share jika setuju.
Sumber : FB Grup Jago Jualan, Dewa Eka Prayoga
.jpg)

0 Response to "TAKUT DIKIRA KAPITALIS..."
Posting Komentar